Bajaj yang kami naiki masuk ke sebuah pemukiman yang padat dan maaf terlihat kumuh. Melewati pasar jembatan besi kami berhenti dan kemudian menyusuri gang-gang di pemukiman itu. Daerah Tanah Tinggi, kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, tak jauh dari stasiun atau terminal Senen. Di luar jalan yang dilewati angkot masih terlihat lumayan, tapi begitu kami memasuki gang demi gang, Ya Rabb, ternyata ada daerah seperti ini, padahal kalau tampak luar sepanjang Senen arah Cempaka Putih tak tampak pemandangan seperti itu. Rupanya tersembunyi di baliknya.

Tak ada jarak antara rumah satu dengan lainnya. Rapat dan hanya punya satu tembok antara dua rumah yang berdekatan. Ada yang sudah berdinding tembok yang pudar cat putihnya, ada yang tak bercat, hanya tampak susunan batu bata, ada yang terbuat dari kayu dan triplek. Takkan ada rumah yang memiliki halaman, karena gangnya pun sempit sekali untuk berjalan. Rumah mereka dihiasi juntaian warna-warni baju yang dijemur di depan rumah, berjejer menyambut tamu yang dating ke rumah mereka.

Petak-petak rumah kecil itu, dihuni dengan banyak orang. Mereka rata-rata adalah para pendatang dari luar Jakarta, yang berusaha mengejar mimpinya ke Jakarta. Iming-iming kehidupan yang lebih baik untuk keluarga dan anak-anaknya adalah alas an yang membuat mereka datang ke Jakarta tanpa memiliki modal ketrampilan yang memadai. Istilahnya nekad, demi mencari lembaran uang untuk makan dan sekolah anak-anaknya. Sebagian besar mereka bekerja sebagai penjual makanan, mulai dari warung nasi, berjualan di pasar, stasiun, terminal di kawasan itu dan juga daerah Senen, dengan melihat kawasan Senen cukup strategis untuk berjualan macam-macam makanan dan minuman, baik makanan matang atau sekedar buah dan cemilan ringan.
Bermula dari acara baksos berupa pemeriksaan kesehatan untuk anak-anak balita mereka, di situ terlihat bagaimana kehidupan mereka sehari-hari. Seorang ibu yang mengantar anaknya, bahkan saat diminta menulis nama anak, nama orang tua dan alamat, ia berkata jujur bahwa ia tak bisa membaca dan menulis. Ibu itu masih cukup muda kira-kira 20 tahun ke atas. Ya Rabb, hari gini di Jakarta masih ada yang tidak bisa membaca dan menulis.
“Bersyukurlah dengan apa yg diberikan Allah, nikmat iman dan Islam, nikmat kesehatan, nikmat akal, pikiran dan hati yang bersih. Bersyukurlah dengan karunia rizqi yang halal …Bersyukurlah dengan cara yang paling sederhana, syukur alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas semua rahmatNya
Sejenak dia berharap
Malam tanpa batas
Bunda s’lalu tanamkan
Jangan pernah menyerah
Jalani dan panjatkan
Kelak syukur kau ucapkan pada diri Nya
Bersyukurlah dengan memberikan simpati kita, paling tidak dengan berbagi rizqi kita untuk mereka, kita bisa makan yang ngasih Allah, jadi klo kita bisa bantu yg membutuhkan maka lakukanlah. Satu hal PR besar yang belum bisa kami lakukan adalah : sumbangsih pemikiran kita untuk kehidupan mereka yg lebih baik. Kalau bantuan yg bersifat instan maka dampaknya pendek, tapi andaikan kami bisa memberikan sebuah ide yang berkelanjutan…andai..tapi apa.
Fina pernah bilang : kita sebenarnya bisa lebih dari yg sekarang. Kita hanya stag di sini, do nothing. Kita belum memberikan kontribusi nyata. Percuma kalau cuma sibuk memperbaiki diri sendiri, tapi banyak orang di sekitar kita yang sebenarnya bisa dibantu. Gak usah muluk2, tengoklah tetangga 40 rumah arah dari rumah kita.
Hiks..kenalkah dengan tetangga? berangkat pagi pulang malam..:(.
==========================================
Kumohonkan
Mudahkan hidupnya hiasi dengan belai Mu
Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta
Terangi harinya dengan lembut mentari Mu
Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka
(lyric S07 Lihat, dengar dan rasakan)
Sebuah pembicaraan hbs magrib dari masjid BI menuju ke busway yang semoga mengingatkan kami untuk lebih melihat dan membuka mata, jangan hanya mengurusi masalahmu sendiri, itu egois! Hal yang sulit, tapi tak ada yang tidak mungkin bukan ?…

Realita itu kujadikan acuan suatu hari nanti tanggung jawab itu harus kuingat. Kemanapun pergi dan melangkah. Tapi tak juga harusnya hal itu menyurutkan wanita untuk berkarya, bekerja dan mengabdi untuk keluarga serta masyarakat.
