Chapter : Maaf

Judul itu sesuai dengan tema tarbawi edisi terbaru, yaitu tentang sentuhan orang-orang atau di sekitar kita, yang dengan kita sadari atau tanpa kita sadari telah membawa makna untuk diri kita. Sentuhan itu jika kita sadari, insyaallah akan menjadikan kita berterimakasih dan bersyukur kepada Yang Maha Mengatur segalanya, bahwa kita masih diberikan keadaan itu, misal menjadi pengingat atas kesalahan yang telah kita lakukan. Yang menegur kita entah secara halus atau langsung tertampar lewat ucapan orang lain, perlakuan orang lain, suatu peristiwa yang menimpa diri kita atau pun yang menimpa orang lain.
Semoga kita termasuk orang yang peka dan selalu mengambil hikmah atas tiap kejadian itu…krn merugilah orang yang tak bisa mengambil insight dari kehidupannya tiap hari. Insight yang bisa menjadi bahan untuk kita berkaca atas perilaku kita, insight yang bisa memotivasi kita untuk belajar dari kesalahan masa lalu, atau belajar dari pengalaman orang lain. Kemampuan menarik suatu hikmah membuktikan kalau akal pikiran dan hati kita masih bisa mencerna mana hal2 yang baik dan yang tidak baik.
==========================================================================
Sabtu sore, dalam perjalanan busway ke arah kampung Melayu, ada telp masuk. Saat Dyra hendak mengangkatnya, telp tersebut sudah berhenti. Dari Bapak, ya bapak yang secara tidak sengaja bertemu di bandara Djuanda Surabaya. Malas menelpon balik dan Dyra cuek saja. Nih kambuh penyakit cueknya.
Minggu siangnya saatnya membalas sms beliau. Tidak baiklah kalau gak mau jawab sms atau telp orang. Dyra menanyakan kabar beliau dan beliau menjawab sms Dyra, dan isinya membuatnya tertegun, merasa bersalah…tak tahu hendak berkata apa…
November 2007,
Sedikit flash back pertemuan itu, saat duduk menunggu lama, maklumlah diantar teman2 sekitar jam 17.00, padahal flight jam 21.00, masih lama banget kan ? hehe
Dyra membaca lembar demi lembar buku. Ada seorang bapak yang menghampirinya. Dia mengajak bercakap2 tentang berbagai hal. Kebetulan ada anak, menantu dan cucunya juga di sana. Oh rupanya anaknya alumni elektro ITS yang bekerja di jakarta juga, jadi bapak tersebut mengantar anaknya ke bandara.
Ngobrol tentang agama, pekerjaan dan macem2lah, sampai pada sebuah pertanyaan yang sudah tak asing lagi. Dyra menanggapi dengan biasa saja, tidak antusias tapi tetap berusaha sopan dan tak menyinggung beliau. Intinya sebuah perkenalan dan niat perjodohan. Waduh..gak bayangin…masak sih dengan orang yang tak dikenal sama sekali. Gak taulah…nggak mau mikirin…Setelah itu Dyra menganggap angin lalu, krn ia harus kembali ke Jakarta. Jadi dianggap selesai..
Entah kenapa beliau begitu bersemangat, sedangkan Dyra nyantai dan cuek. Setelah pertemuan itu, bulan berikutnya sekitar Desember 2007, waktu ada acara nikahan teman di Surabaya, bapak itu menghubungi Dyra dan hendak mengenalkan seseorang, sepertinya sih saudara atau keponakannya. Tapi Dyra malas bngt, tapi karena gak enak ya sudahlah Dyra mengajak temannya ke tempat yg ditentukan. Dan pertemuan itu biasa saja, Dyra banyak diam dan nggak ngajak bicara sama sekali. Padahal ada bapak itu di sana. Rasanya ingin sekali pergi dari sana dan balik ke Jakarta. Hmm..nothing special dan memang tidak ada apa-apa.
Akhirnya bisa melarikan diri dari sana. Hal yang salah, harusnya kalau ingin mengenalkan seseorang, paling tidak kita tau orang tsb seperti apa, gambaran dan profilenya, kalau blank sih mending nggak aja. Setelah pertemuan itu, entahlah Dyra merasa biasa-biasa saja. Dyra merasa kurang sreg dengan cara dan metode perkenalan itu. Maka dari awal, Dyra berusaha konsisten dengan prinsip2nya, belajar untuk menerapkan ilmu2 yang telah ia dapatkan.
Kata orang ..kenali dululah..jalani dulu..siapa tau …
Tapi bagi Dyra tidak seperti itu. Mungkin memang yang namanya perasaan suka bisa muncul seiring waktu, apalagi bagi wanita, itu mudah sekali. Menurut Dyra untuk mencapai tujuan yang baik, maka cara dan niatnya juga harus lurus dan benar. Sementara ia merasa niatnya sendiri masih ragu-ragu dan belum yakin. Tentang metode, ia kurang setuju model pendekatan calon yang dikenalkan padanya, maka setelah berpikir dan memohon petunjukNya..Dyra memohon maaf pada bapak tersebut, kalau ia tak pantas melanjutkan semuanya. Dia masih setengah-setengan tentang niatnya menggenapkan setengah Dien..karena itu bukanlah hal main2..
Menikah bukan hanya sekedar keinginan.., bukan hanya sekedar cinta..Tapi ada janji dan tanggungjawab besar di sana, selain untuk menjaga kesucian diri, juga untuk membentuk keluarga yang akan melahirkan generasi2 muslim..
Jadi daripada Dyra main2 atau coba2 lebih baik ia meminta maaf pada bapak itu. Sang bapak menanyakan kenapa..dan kenapa..
Semenjak itulah Dyra jarang berkomunikasi dg beliau. Hingga sms bapak itu masuk . Mengabarkan bahwa beliau sedang sakit dan opname di RS, serangan jantung dan harus dipasang ring pada arteri koronernya..sampai waktu dia sms masih akan dilanjutkan pemasangan berikutnya.
Bapak itu meminta maaf pada Dyra ..agar jika Allah memanggilnya sewaktu-waktu, dia tidak ada tanggungan lagi. Dan memohon doa agar semuanya berjalan dengan baik. Bapak itu memohon maaf jika yang telah dilakukannya kurang berkenan
Sejenak Dyra merenung. Ia sadar, sebuah permintaan maaf dan permohonan doa yang tulus. Bahkan bapak itu masih menanyakan kabar Dyra apakah sekarang sudah berkeluarga atau belum.
Ya Allah Dyra mohon ampun…atas dosa2 Dyra…kesalahan Dyra. Kenapa Dyra seakan berprasangka buruk pada bapak itu, sehingga bapak itupun merasa kalau Dyra marah pada beliau. Dyra segera membalas sms beliau dan memohon maaf karena telah mengecewakannya.
Ya Allah berikan yang terbaik untuk beliau, berikan kesehatan dan kelancaran untuk kesembuhannya..
Dyra tak habis pikir, bahkan bapak itu masih mau tau kabar Dyra yg sekarang. Masih meminta agar kalau Dyra pulang ke Surabaya, bisa mampir untuk sekedar silaturahmi. Dengan kabar itu Dyra sadar suatu hal, kita harus tetap menjaga silaturahmi dan bersikap baik kepada orang lain, meskipun kita pernah ada masalah dengan mereka. Jangan takut atau gengsi untuk meminta maaf terlebih dulu..dan juga berusahalah memaafkan kesalahan orang lain, menjadi orang yang berjiwa besar dan lapang akan lebih menenangkan hati. Tidak mudah memang, tapi berusahalah menempatkan diri kita di posisi mereka, sebagai orang yang tersakiti atau kdang sebagai orang yang menyakiti.
===============================================================
Sepenggal cerita itu mengingatkan kalau tanpa kita sadari sebenarnya banyak orang2 yang masih menyayangi kita. Sedang kita sendiri kurang peduli dengan keadaan orang lain. Semua sikap dan perkataan kita, mungkin tanpa kita sadari telah menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Maka segeralah mari kita mengkoreksi diri kita, segera minta maaf pada mereka. Jangan sampai tertunda lagi
Khawatir kalau sebelum meminta maaf, mereka telah pergi mendahului kita dan membawa luka itu hingga di hari akhir. Atau kita sendiri lebih dulu dipanggil menghadapNya tanpa sempat memohon maaf pada mereka. Atau doa-doa kita belum diijabah oleh Allah, salah satunya mungkin karena kita pernah menyakiti hati orang lain…dan belum minta maaf.
Sekali-kali tempatkan diri kita bukan hanya sebagai pihak yang disakiti. Tapi sadarlah juga sebagai orang yg menyakiti, maka kewajiban kita adalah meminta maaf, mengucap baris permohonan maaf…
Manusia tak ada yang sempurna krn kesempurnaan hanyalah milikNya.., mohon ampun padaNya dan minta maaf kepada saudara-saudara kita