Inspirasi


sedihku hilang dg senyumnya
lelahku tak hendak kurasa karenanya
bahagiaku karena ada bahagianya

tak layak keluhan terucap dariku
tak kan sanggup melihatnya terluka
tak sanggup melihat bulir-bulir air mata itu jatuh
tak mampu mendengar tangis tertahan darinya…
bahkan seakan aku tak kuat berdiri
goyah dlm ketegaranku

maka…
tak boleh aku berhenti di sini
tak boleh kalah dg rasa sedih
dg perih yang tertahan
masih ada sebuah harapan

harapan itu ada di sana
harapan itu lewat doa-doa
lewat sujud panjang memohon kepadaNya

doa yang takkan pernah berhenti
selama aku masih diberikan kesempatan hidup
jagalah ia dengan sebaik-baiknya penjagaanMU
sayangilah dg penuh kasih sayang
berikanlah pancaran cahayaMu di hatinya
berikanlah sisa usia yang penuh berkah..
 sayangilah ia seperti ia menyayangiku di waktu kecilku hingga sekarang
 ku ganti dg :
         sayangilah ia, jauh berlipat kali dari ia menyayangiku

untaian permata cinta nya tak kan pernah mampu terbalas oleh apapun
kasih sayang yang tulus, pengorbanan yg takkan tergantikan
tak terbayar oleh apapun
kalau ada berjuta ungkapan cinta…takkan cukup kata itu terangkai untuknya

>: March, 17 09

puisi yg biasa saja untuk ibu yg begitu luar biasa di hari Miladnya yg ke 47

(seiring dg pelajaran berharga yg smoga menyadarkan kami)

semoga suatu hari nanti..aku bisa membuatnya tersenyum..

Perkenalan pertama dengan beliau, sosok yang sederhana dan cukup friendly. Dari cara berjilbab nya yang rapi, awalnya memberikan kesan agak kaku kalau diajak bercanda. Tapi setelah beberapa kali berinteraksi ternyata beliau teman cerita yang asik dan rame juga. Mungkin juga tergantung cara kita memancing topik pembicaraan J

Profesinya adalah pengajar tahsin, baca alqur’an dengan memperhatikan bacaan nya, baik panjang pendek (Mad), makhraj, sifat huruf, hukum bacaan (tajwid), hingga bacaan khusus missal ghorib, saktah dll. Beliau bekerja di salah satu lembaga bimbingan al qur’an dan tahfiz di daerah Jakarta Timur. Tetapi karena beliau belum berkeluarga, maka diberikan amanah untuk mengajar keliling ke tempat muridnya, bukan di tempat lembaganya. Jadi istilahnya bilal, guru yang mendatangi murid2nya. Mengajarnya sesuai waktu perjanjian si murid tersebut. Ada yang dating ke rumah per minggu, ada yang berkelompok misalnya seperti ibu-ibu di department bea cukai.

Membayangkan transportasi beliau dengan bus dan rute angkot di Jakarta, maka butuh waktu yang tidak sebentar untuk mencapi rumah muridnya, dan juga letih yang telah diabaikannya. Selain niat mencari rizqi Allah, sesungguhnya ada nilai ibadah yang begitu besar di sana, karena dia telah mengajarkan cara baca Al Qur’an yang benar seperti apa. Kadang beliau bercerita kalau yang diajar masih muda tidak begitu ada masalah, karena masih punya semangat yang tinggi. Tapi kalau ibu-ibu, biasanya mereka agak malas dan lupa. Trus kalau anak kecil, harus penuh kesabaran karena mesti diajakin main dulu baru mau belajar, hehe.

Di sela-sela aktifitasnya mengajar, beliau juga masih terus belajar di murobbi nya di lembaga itu, sekalian tahfiz, sudah juz 29 dan 30 yang dihafal. Subhanallah…

Beliau lulusan setingkat SMA kalau tidak salah..dan ingin sekali mengajar di sekolah islam..Cuma kendalanya adalah syarat pendaftaran lulusan S1 dan bisa bahasa Arab..

Sebuah keinginan yang selalu diucapkannya dengan penuh semangat… (ku dengar dengan berbinar juga, semoga suatu saat mimpi nya terwujud)

Untuk belajar bahasa Arab kendalanya adalah waktu yang belum ada jika harus masuk lembaga khusus untuk belajar itu… (hmm…memang gak bisa klo bljr sendiri, hrs ada gurunya, jadi merindukan saat2 belajar kosakata dan angka di Arrahman..kenapa semua ilmu itu hilang tak berbekas dr ingatan? Apakah karena begitu banyak salah dan dosaku ya Rabb)

Beliau bercerita klo dulu SMA belum pakai jilbab dan masih gaul banget.

                Mbak, koq bisa perubahannya cepet gitu? Saya koq lama dan mb koq bisa drastis bngt, dari yang pakaian terbuka bngt jadi tertutup rapi?..(hihi jadi malu)

Itulah kalau Allah sudah memberikan hidayah, tapi sekali lagi hidayah tdk dating dengan sendirinya, tapi harus kita usahakan, cari dan kita kejar. Sebenarnya ada yang lebih sulit lagi adalah fase mempertahankan suatu keadaan (istiqomah), yang harus lebih baik dari sebelumnya.

                Jangan salah, kita tak pernah tau ..kita akan bagaimana bsk, lusa, tahun depan dan meninggal dalam keadaan bagaimana? Apakah masih tetap dalam keadaan beriman atau sebaliknya (naudzubillahi mindzalik)..Sehingga dalam doa-doa kita seharusnya tak pernah lupa meminta agar nikmat islam, iman tak pernah hilang dari kita, dan kita meningggal dalam keadaan beriman kepadaNya..dalam keadaan khusnul khotimah.

Salah satu ceritanya untukku dan nasehatnya siang itu, entah kenapa sehabis dia mencicipi masakan sederhana yang ku masak tadi pagi, beliau bercerita ttg teman-temannya. Beberapa temannya sedang mengeluh dan bertanya-tanya kenapa mereka sampai usia 29 dan 30 thn, belum dipertemukan dengan belahan hatinya. Sekali lagi masih ada yang berkata : telah melakukan sholat dan berdoa terus, tapi kenapa belum diijabah oleh Allah.

                Astaghfirullah., mungkin mereka khilaf saat mengucapkan itu. Tak ada hubungan antara kita melakukan ibadah sholat, puasa dll dengan belum dikabulkannya apa yang kita minta. Ibadah adalah wujud pengabdian, kewajiban dan kebutuhan kita kepada Sang Pencipta. Ibadah ya harus dilakukan, sebaiknya tak diembel-embeli, aku kan sudah melakukan ini, itu, tapi kenapa Allah belum memberikan yang kuminta.

Ya sudah..lakukan ibadah kita sebaik mungkin dan terus berdoa. Masalah dikabulkan atau tidak itu urusan dan hak mutlak Allah. ..Pernah baca kalau doa kita itu ada 3 kemungkinan :

1.       Dikabulkn saat ini oleh Allah

2.       Sedang ditunda, dan akan dikabulkan nantinya

3.       Tidak diijabah, tapi akan diberi yang lain, ganti yang lebih baik

Kemudian beliau menasehati ke teman2nya itu, mungkin kita nya yang belum maksimal dlm beribadah atau cara kita meminta yang masih salah. Bagaimana dengan sholat kita, apakah sudah tepat waktu saat adzan dikumandangkan, ataukah kita termasuk orang2 yang suka menunda sholat, menyepelekan dan suka membuat keringanan sendiri?…(tanggung masih ada kerjaan, macet, di jamak saja dll)

Kalau salah satu indicator itu saja kita masih lalai, maka marilah diperbaiki. Karena klo panggilan Allah saja kita tunda, maka wajar klo Allah masih menunda permintaan kita kan?

Next, cara kita meminta…Mulailah dengan urutan yang benar, tata cara berdzikir yang sudah dicontohkan. Misal mulailah dengan alfatihah, ayat kursi, istighfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, sholawat..mohon ampun, memuji kebesaran Allah, bersyukur atas semua nikmat dan karuniaNya..berdoalah untuk orang lain, keluarga, sahabat, saudara2 kita..baru yang terakhir adalah special doa untuk kita sendiri.

Terus di penutup siang itu, prinsipnya adalah carilah yang bisa menutupi kekuranganmu dan sebaliknya kamu bisa mengisi kekurangan dia.

Kembali lagi bahwa tiap orang punya kekurangn dan kelebihan masing, itulah makanya tujuan dipasang2kan, untuk saling mengisi dan melengkapi. Tak perlu banyak criteria dan syarat, tak perlu muluk-muluk, tak perlu yang bisa ini dan itu.  (..hmm yg bisa menerima kita apa adanya, sebagai satu paket yang punya kelebihan dan kekurangan..mungkin itulah arti memahami, bukan hanya menuntut dan seabrek syarat terlalu tinggi yang susah dipenuhi oleh seseorang). Cukup criteria utamanya saja, yg bnr2 tentang aqidah atau tujuan hidup dia misalnya, yang lain terimalah apa adanya, itu bisa dibangun bersama)

Thx mbak..atas nasehat nya, terimakasih untuk sharing dan pengalamannya..smoga Allah memberikan yang terbaik untuk mbak J. Dan untuk saya juga ..Amin

Written by yg msh trs belajar memahami semuanya

 @t  Jkt, 7 Maret 2009, 23.55 pm

Sore kemarin selepas Ashar, hujan turun deras, karena belum bisa balik ke kantor, akhirnya duduk2 dulu di emperan masjid. Kali ini tidak melamun, karena tidak ada bahan yang dilamunkan. Kulihat masjid mulai ramai, karena tiap Kamis sore ada pengajian di sini.

Sepasang suami istri dan anak-anak mereka. Mereka terlihat berbeda. Entahlah yang datang ke pengajian itu dari segi penampilan sudah sangat beda dg kalangan biasanya. Yang akhwat memakai baju panjang serba hitam, gamis dan jilbab hitamnya tak kalah panjang dengan baju mereka. Belum lagi sebagian besar malah ada yang memakai cadar hitam. Anak-anak yang ikut masih kecil dan jumlahnya banyak, mungkin tiap keluarga membwa 2/3 lebih anak kecil yg jarak antara anak gak beda jauh.

” Mungkin saat mereka melihatku terbersit di hati mereka. Mbaknya jilbabnya kecil sekali”. Meski tak diungkapkan lewat kata, kadang tatapan-tatapan itu seolah menghakimiku. Tatapn dari atas ke bawah…(whatever lah..)

Jam 17.30 ingin pulang cepat dan mampir lagi ke masjid biar bisa tahu penasaran juga apa sih isi pengajian mereka. Ada saja dari dulu halangannya, gak jadi2. Saat mau shutdown,  tertunda karena ada bugs masuk, ya tertunda lagi karena ada problem di kerjaan.

Pukul 18.05 mendekati magrib, ku langkahkan kaki ke masjid, masih ada pengajiannya cuma sepertinya hampir di tutup. Ramai oleh orang itu, mungkin salaf kali ya. Ku dengarkan sebentar. Isinya gak ada macem2, pembahasan tentang sholat. Ku dengarkan …nothing special..maksudku sebenarnya tidak ada yang menyimpang sejauh ini. Tapi bukan berarti ikut2an dg mereka.

Adzan magrib dikumandangkan dan ikut berjamaah bersama mereka. Tidak ada yang pakai mukena, karena pakaian dan jilbab mereka juga sudah seperti mukena.

“Aku tidak peduli dengan anggapan mereka, karena dalam sholat berjamaah tdk memandang golongan manapun”.

Sujud dan rukuk sang imam cukup lama..Ini yang membuatku malu. Mereka itu sangat menegakkan Al Qur;an dan Shunnah. Berpegang teguh pada keduanya. Dan semangat mereka menuntut ilmu cukup besar, sayangnya kenapa mereka hanya menuntut ilmu /pengajian bersama kelompok mereka saja, tidak membaur dengan yang lainnya.

Dengan keeksklusif-an mereka, maka akan cukup sulit untuk membaur dan masuk ke masyarakat, apalagi masyarakat awam. Mereka akan terlihat aneh dan dipandang sebuah aliran yang menakutkan.

Begitu salam diucapkan..antara mereka saling bersalam-salaman. …aku hanya diam, karena termasuk yang tidak di ajak bersalaman. Mungkin aneh karena pakai mukena warna-warni :)

Barisan mereka buyar dari masjid. Aku masih duduk terdiam di sana. Tak terbendung sebuah rasa ..Ya Allah mungkin aku jauh dari sifat2 baik mereka, dari segi pakaian yang sempurna, dari segi ilmu2 yang lain. ..

Setidaknya muncul semangat kalau tak boleh kalah dengan mereka dalam menuntut ilmu ..dan beribadah padaMu. Yang tau isi hati seseorang adalah Engkau..berikanlah kami pakaian ketaqwaan itu Ya Allah..agar kelak saat menghadapMu kami termasuk golongan orang-orang yang bertaqwa kepadaMu

Chapter : Maaf

langit-again

 

Judul itu sesuai dengan tema tarbawi edisi terbaru, yaitu tentang sentuhan orang-orang atau di sekitar kita, yang dengan kita sadari atau tanpa kita sadari telah membawa makna untuk diri kita. Sentuhan itu jika kita sadari, insyaallah akan menjadikan kita berterimakasih dan bersyukur kepada Yang Maha Mengatur segalanya, bahwa kita masih diberikan keadaan itu, misal menjadi pengingat atas kesalahan yang telah kita lakukan. Yang menegur kita entah secara halus atau langsung tertampar lewat ucapan orang lain, perlakuan orang lain, suatu peristiwa yang menimpa diri kita atau pun yang menimpa orang lain.

Semoga kita termasuk orang yang peka dan selalu mengambil hikmah atas tiap kejadian itu…krn merugilah orang yang tak bisa mengambil insight dari kehidupannya tiap hari. Insight yang bisa menjadi bahan untuk kita berkaca atas perilaku kita, insight yang bisa memotivasi kita untuk belajar dari kesalahan masa lalu, atau belajar dari pengalaman orang lain. Kemampuan menarik suatu hikmah membuktikan kalau akal pikiran dan hati kita masih bisa mencerna mana hal2 yang baik dan yang tidak baik.

==========================================================================

Sabtu sore, dalam perjalanan busway ke arah kampung Melayu, ada telp masuk. Saat Dyra hendak mengangkatnya, telp tersebut sudah berhenti. Dari Bapak, ya bapak yang secara tidak sengaja bertemu di bandara Djuanda Surabaya. Malas menelpon balik dan Dyra cuek saja. Nih kambuh penyakit cueknya.

Minggu siangnya saatnya membalas sms beliau. Tidak baiklah kalau gak mau jawab sms atau telp orang. Dyra menanyakan kabar beliau dan beliau menjawab sms Dyra, dan isinya membuatnya tertegun, merasa bersalah…tak tahu hendak berkata apa…

November 2007,

Sedikit flash back pertemuan itu, saat duduk menunggu lama, maklumlah diantar teman2 sekitar jam 17.00, padahal flight jam 21.00, masih lama banget kan ? hehe

Dyra membaca lembar demi lembar buku. Ada seorang bapak yang menghampirinya. Dia mengajak bercakap2 tentang berbagai hal. Kebetulan ada anak, menantu dan cucunya juga di sana. Oh rupanya anaknya alumni elektro ITS yang bekerja di jakarta juga, jadi bapak tersebut mengantar anaknya ke bandara.

Ngobrol tentang agama, pekerjaan dan macem2lah, sampai pada sebuah pertanyaan yang sudah tak asing lagi. Dyra menanggapi dengan biasa saja, tidak antusias tapi tetap berusaha sopan dan tak menyinggung beliau. Intinya sebuah perkenalan dan niat perjodohan. Waduh..gak bayangin…masak sih dengan orang yang tak dikenal sama sekali. Gak taulah…nggak mau mikirin…Setelah itu Dyra menganggap angin lalu, krn ia harus kembali ke Jakarta. Jadi dianggap selesai..

Entah kenapa beliau begitu bersemangat, sedangkan Dyra nyantai dan cuek. Setelah pertemuan itu, bulan berikutnya sekitar Desember 2007, waktu ada acara nikahan teman di Surabaya, bapak itu menghubungi Dyra dan hendak mengenalkan seseorang, sepertinya sih saudara atau keponakannya. Tapi Dyra malas bngt, tapi karena gak enak ya sudahlah Dyra mengajak temannya ke tempat yg ditentukan. Dan pertemuan itu biasa saja, Dyra banyak diam dan nggak ngajak bicara sama sekali. Padahal ada bapak itu di sana. Rasanya ingin sekali pergi dari sana dan balik ke Jakarta. Hmm..nothing special dan memang tidak ada apa-apa.

Akhirnya bisa melarikan diri dari sana. Hal yang salah, harusnya kalau ingin mengenalkan seseorang, paling tidak kita tau orang tsb seperti apa, gambaran dan profilenya, kalau blank sih mending nggak aja. Setelah pertemuan itu, entahlah Dyra merasa biasa-biasa saja. Dyra merasa kurang sreg dengan cara dan metode perkenalan itu. Maka dari awal, Dyra berusaha konsisten dengan prinsip2nya, belajar untuk menerapkan ilmu2 yang telah ia dapatkan.

Kata orang ..kenali dululah..jalani dulu..siapa tau …

Tapi bagi Dyra tidak seperti itu. Mungkin memang yang namanya perasaan suka bisa muncul seiring waktu, apalagi bagi wanita, itu mudah sekali. Menurut Dyra untuk mencapai tujuan yang baik, maka cara dan niatnya juga harus lurus dan benar. Sementara ia merasa niatnya sendiri masih ragu-ragu dan belum yakin. Tentang metode, ia kurang setuju model pendekatan calon yang dikenalkan padanya, maka setelah berpikir dan memohon petunjukNya..Dyra memohon maaf pada bapak tersebut, kalau ia tak pantas melanjutkan semuanya. Dia masih setengah-setengan tentang niatnya menggenapkan setengah Dien..karena itu bukanlah hal main2..

Menikah bukan hanya sekedar keinginan.., bukan hanya sekedar cinta..Tapi ada janji dan tanggungjawab besar di sana, selain untuk menjaga kesucian diri, juga untuk membentuk keluarga yang akan melahirkan generasi2 muslim..

Jadi daripada Dyra main2 atau coba2 lebih baik ia meminta maaf pada bapak itu. Sang bapak menanyakan kenapa..dan kenapa..

Semenjak itulah Dyra jarang berkomunikasi dg beliau. Hingga sms bapak itu masuk . Mengabarkan bahwa beliau sedang sakit dan opname di RS, serangan jantung dan harus dipasang ring pada arteri koronernya..sampai waktu dia sms masih akan dilanjutkan pemasangan berikutnya.

Bapak itu meminta maaf pada Dyra ..agar jika Allah memanggilnya sewaktu-waktu, dia tidak ada tanggungan lagi. Dan memohon doa agar semuanya berjalan dengan baik. Bapak itu memohon maaf jika yang telah dilakukannya kurang berkenan

Sejenak Dyra merenung. Ia sadar, sebuah permintaan maaf dan permohonan doa yang tulus. Bahkan bapak itu masih menanyakan kabar Dyra apakah sekarang sudah berkeluarga atau belum.

Ya Allah Dyra mohon ampun…atas dosa2 Dyra…kesalahan Dyra. Kenapa Dyra seakan berprasangka buruk pada bapak itu, sehingga bapak itupun merasa kalau Dyra marah pada beliau. Dyra segera membalas sms beliau dan memohon maaf karena telah mengecewakannya.

Ya Allah berikan yang terbaik untuk beliau, berikan kesehatan dan kelancaran untuk kesembuhannya..

Dyra tak habis pikir, bahkan bapak itu masih mau tau kabar Dyra yg sekarang. Masih meminta agar kalau Dyra pulang ke Surabaya, bisa mampir untuk sekedar silaturahmi. Dengan kabar itu Dyra sadar suatu hal, kita harus tetap menjaga silaturahmi dan bersikap baik kepada orang lain, meskipun kita pernah ada masalah dengan mereka. Jangan takut atau gengsi untuk meminta maaf terlebih dulu..dan juga berusahalah memaafkan kesalahan orang lain, menjadi orang yang berjiwa besar dan lapang akan lebih menenangkan hati. Tidak mudah memang, tapi berusahalah menempatkan diri kita di posisi mereka, sebagai orang yang tersakiti atau kdang sebagai orang yang menyakiti.

===============================================================

Sepenggal cerita itu mengingatkan kalau tanpa kita sadari sebenarnya banyak orang2 yang masih menyayangi kita. Sedang kita sendiri kurang peduli dengan keadaan orang lain. Semua sikap dan perkataan kita, mungkin tanpa kita sadari telah menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Maka segeralah mari kita mengkoreksi diri kita, segera minta maaf pada mereka. Jangan sampai tertunda lagi

Khawatir kalau sebelum meminta maaf, mereka telah pergi mendahului kita dan membawa luka itu hingga di hari akhir. Atau kita sendiri lebih dulu dipanggil menghadapNya tanpa sempat memohon maaf pada mereka. Atau doa-doa kita belum diijabah oleh Allah, salah satunya mungkin karena kita pernah menyakiti hati orang lain…dan belum minta maaf.

Sekali-kali tempatkan diri kita bukan hanya sebagai pihak yang disakiti. Tapi sadarlah juga sebagai orang yg menyakiti, maka kewajiban kita adalah meminta maaf, mengucap baris permohonan maaf…

Manusia tak ada yang sempurna krn kesempurnaan hanyalah milikNya.., mohon ampun padaNya dan minta maaf kepada saudara-saudara kita

 

 

9 Feb 09, di salah satu ruang Training Gedung AM**, Gedung A, A*

Ada sebuah buku Twilight di meja training itu, buku yang dibaca oleh seorang teman dari meminjam buku milik teman yang lainnya. He he..

Beliau mengambil buku itu dan membolak-baliknya di depanku. Sambil mengecek report, ku dengar beliau menegur dan bertanya ke temanku.

A: “Dek, suka baca buku semacam itu ya? Apa manfaatnya buku itu setelah kamu membacanya?

B : ” Saya suka saja sih pak, ceritanya bagus

A : Tapi, insight apa yg kamu peroleh setelah membacanya ? Buku setebal itu pasti membutuhkan banyak waktu untuk membacanya. Bukankah hanya sekedar cerita roman percintaan remaja biasa, apalagi latarnya dunia barat dan kisah cinta antara vampire dan anak manusia.

Dalam hatiku mengiyakan, benar juga gak ada untung2nya buku itu, pasti hanya just fun aja kalau orang membacanya.

A : Takutnya bacaan itu akan menimbulkan pemikiran lain, yang masuk ke pola pikir kita. Jadi hati2 saja, belum lagi jika setelah membaca buku tebal itu, kamu meninggal dan ditanya setelah meninggal ..Sedang apa kamu saat meninggal? Hah sedang baca buku twilight…

Maaf ya aku keras pada kalian semua. Biar jadi pelajaran bagi kita semua. Kalau kita harus berpikir matang sebelum bertindak atau melakukan sesuatu, ada manfaatnya atau tidak untuk kita, trus bisa menjadi sarana yg mendekatkan kita pada Allah atau tidak…jd jgn asal atau hanya pengn senang2

Deg..rasanya pernyataan itu tak perlu dijawab. Menanyakan pada diri masing2. Speechless. .., Waktu yang terus berganti mengiringi usia yg terus berkurang. Bermacam aktivitas telah kita lakukan. Pertanyaannya : Apakah sudah kita lakukan bermakna untuk hidup kita? Apakah yang kita lakukan hanya bertujuan mencari ridhaNya…atau hanya sekedar just fun, mengalir ikut arus air..

[103:1] Demi masa.

[103:2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

[103:3] kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran

Semoga kami bisa belajar sedikit demi sedikit untuk mengisi waktu dengan sebaik-baiknya, di antara rutinitas kerja sehari2..akan ada suatu waktu dimana kita dimintai pertanggungjawaban atas semua aktivitas kita..hari dimana tak kan bisa kita mengelak, berbohong atau lari..

Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja
dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina

(1997)

Anakku tersayang, meski jauh dari ibu, ku titipkan kau di sini dengan sepenuh cinta dan kasih, dengan sejuta rinduku untukmu, dengan harapan jadilah anak yang baik, soleh, berbakti pada kedua orang tua, berguna untuk masyarakat, generasi penerus yang akan menegakkan islam dimanapun kelak kau berada..”

Meski aku tak kan bisa melihatmu tiap hari, meski tak bisa menasihatimu tiap waktu, bahkan tak bisa menyiapkan makanan yg kau sukai..bahkan aku tak bisa melihat senyum dan tawamu, atau sedihmu, atau lelapnya tidurmu

Namun..ibu sadar, engkau adalah permata terindah yang diberikan oleh Allah, anugerah terhebat yang dititipkan Allah padaku, ibu rela berpisah dengan mu di sementara waktu di dunia, dengan satu harapan agar keluarga kita nanti insyaalllah bisa dipertemukan dan dipersatukan oleh Allah di surga yg dijanjikan olehNya…untuk hamba2Nya yg taat kepada Nya… Keluarga sederhana kita : aku, suami tercinta, dan engkau anak2ku tersayang. Amin

“berjuta rindu yang ku tahan, berjuta air mata mengiringi doa-doa yg selalu ibu panjatkan untukmu…

Siang kemarin, saat jam istirahat siang, diajak pak cholis, mas harmadi untuk menemani Mb Nur pergi ke sebuah sekolah plus pesantren. Kebetulan aku lagi ingin melihat hal-hal yang baru, sekalian kami ingin sholat di masjid, kebetulan di kompleks sekolah itu ada masjid yang cukup besar.

Sampailah kami di sekolah pesantren itu, Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendikia Serpong. Kawasan nya cukup tenang dan luas, cuma satu kekurangannya bangunannya kurang sedikit terawat, artinya jauh sekali dari SMU-SMU bertaraf internasional di jakarta, yang dipenuhi oleh orang2 kaya, karena biayanya yg begitu mahal dan elit.

Kami menuju masjid itu, alhamdulillah..rasanya beda sekali…begitu aku memasuki di bagian putri, mereka berpakaian muslimah yg rapi. Ya dengan rok panjang smu, dan baju panjang yang tidak dimasukkan, sekaligus panjang menutup. Jilbab yg mereka kenakan rapi dan syar’i. (Ya Allah jadi malu..dulu seusia mereka aku bahkan tak tau apa2..)

Saat naik ke tangga masjid, di tempat wudu dan selesai sholat, mereka menyampaikan salamnya dengan sopan dan bersahabat. Subhanallah…tenang dan damai rasanya. Jauh dr kondisi hingar bingar, urakan, cara pergaulan dan cara berpakaian yg biasa ada di anak2 metropolis itu. Senyum yang tulus…itulah ukhuwah krn kita seagama, meskipun sebelumnya tidak pernah kenal.

Jadi teringat kontras sekali dg para mahasiswa di gedung kantorku di Swiss-German Centre-BSD. Serasa bukan di Indonesia saja melihat mereka, mulai dr cara berpakaian yg aneh, tak sopan buat pergi k sekolah, layaknya itu pakaian ke pantai, ke mall, bahkan ada yg terbuka seperti pakaian di rumah. ya dan glamorisme kehidupan mereka…sudahlah tau sendiri :)

Kembali ke suasana madrasah tadi, sempat melihat2 di situ satu kelas ada 24 siswa dengan kelas taraf internasional, boarding school. Dulunya madrasah ini hanya diperuntukkan untuk murid2 dari pesantren agar mereka memperoleh pendidikan yang lebih bagus dan maju. Tetapi karena banyak peminatnya maka mulai dibuka pendaftaran untuk siswa dari SMP sekolah islam dan SMP umum/negeri lainnya. Tiap tahunnya ada ribuan yang mendaftar dan hanya sekitar 100 yg diterima, dengan syarat raport dan ranking yg bagus, interview dan tes lainnya

Prestasi sekolah cukup bagus dari bidang akademik, terlihat dari nilai rata2 UAN yang di atas rata2, dan prestasi lomba2 akademik, serta kegiatan ekstra yang seabreg, mulai dari kegiatan karya tulis, pecinta alam, pramuka, dan kesenian (band, nasyid), baca tulis qur’an.

Fasilitas sekolah antara lain : ruang kelas full AC, laboratorium komp, biologi, perpustakaan OL, fasilitas tempat olahraga, kantin dan tentu saja asrama putra, putri dan guru-guru. Di sana ada semacam anak asuh, jadi beberapa anak berada di bawah bimibingan dan asuhan seorang guru, ya semacam mentor mereka di sana, pengganti orang tua.

Hm…lega banget melihat mereka. Siswa2 putranya juga terlihat sopan dan ramah. …Semoga mereka menjadi generasi muslim yang akan melanjutkan perjuangan para pejuang Islam selanjutnya. Bahagia sekali orang tuanya…memiliki anak2 seperti mereka, insyaallah jadi tabungan amal untuk kedua orangtuanya..subhanallah..

Ya Allah..karuniakanlah kepada kami..putra putri yang soleh dan solehah..

Berikanlah pada kami anak2 yang tetap menegakkan sholat dimanapun dan kapanpun mereka berada..

putra-putri yang akan mendoakan kami saat kami menghadapMu…

info lebih lanjut bisa diperoleh di :

madrasah aliyah negeri insan cendekia serpong, jl. cendekia bsd sektor xi tangerang 15310, tel 021-7563578 hunting faks 021-7563582
www.insancendekia-tng.net

Malam, 31 Desember 2008. Setelah lama dan muter2 mencari akhirnya sampailah kami di jalan Iskandar Muda, yaitu dia masjidnya. Masjid yang unik, bagus dan bagian kubah atasnya berwarna biru tua, Masjid Raya Pondok Indah. Mendekati pukul 21.00 karena susah sekali bisa pulang kantor di bawah jam itu.

Masjid sudah dipenuhi jamaah, bahkan di lantai 2 seakan tidak ada celah untuk kami duduk. Setelah mendesak ke depan, akhirnya aku dapat tempat duduk, terpisah sementara dengan Mb Ika dan Datu. Ups…baru duduk, temanya memang malam itu membicarakan tentang Ilegal Wedding.

Tapi pembahasan sebelum itu adalah tentang warna warni cinta dan pernikahan. Ya Allah…semoga ilmu yang kudengar malam itu bisa membuatku lebih tenang. Dari seputar seluk beluk tata cara taaruf, meminang hingga pasca pernikahan dibahas di situ.

Aku hanya bisa tertunduk dan tidak berkomentar apa2. Rasanya tiap perkataan dan nasehat ustadznya seakan menyindirku. Salah satu hal yang benar-benar membuatku tersentak. Kalau kamu jangan terlalu yakin klo dia adalah jodohmu atau terlalu menolak dan yakin klo dia bukan jodohmu. Sesuatu hal yang takkan bisa ditebak nantinya, Allah lah yang punya kuasa dan kehendak untuk mengatakan itu terjadi atau tidak.

Lalu bagaimana ketika kita sudah yakin bahwa ia adalah jodoh yang terbaik untuk kita, bagaimana kalau kita sudah melakukan cara yang diperintahkan oleh Allah dengan cara yg benar, yang sesuai syariatNya, kemudian juga tak melewatkan sholat taubat, hajat, istikharah dan doa2 yg dianjurkan..

Bagaimana jika akhirnya dengan mudah sekali dan tanpa diduga, Allah mengambil harapan itu? Bagaimana untuk mengikhlaskannya? Itulah sebuah proses pencarian yg begitu panjang dan tak surut, naik turun hingga saat ini. Kamu hanya kehilangan sesuatu hal yang memang belum diberikan untukmu, jadi kenapa terasa sulit sekali menghapusnya?

Jawaban malam itu seakan memberikan sentuhan yang menamparku pelan tapi dalam. Aku sangat sadar nasehat itu semuanya benar, karena bersumber dari Al Quran, tapi maafkan hamba karena kadang masih lalai dan hilaf.

Tentang Allah lah yg paling Tahu mana yg terbaik….I see it. Tentang pengetahuan kita yg amat terbatas tentang rahasia jodoh dan baik buruknya ia untuk masa depan kita. Tapi satu yang pasti bahwa klo saat ini kamu diuji tentang suatu hal…hadapilah dengan rasa syukur dan sabar. Bersyukurlah atas smua yang diberikan Allah, baik itu berupa kebahagiaan, atau berupa kesedihan. Kenapa harus bersyukur dengan kesedihan/ kehilangan ? sebenarnya sedih atau bahagia itu bukan ditentukan oleh akibat sebuah peristiwa dan kejadian.

Misal karena kehilangan sesuatu maka kita jadi sedih, kehilangan itu adalah sebuah peristiwa. Bukan krn peristiwa itu, tapi bagaimana kita menyingkapi dan memaknai tiap detik apapun yg menimpa kita, apapun yg diberikan pada kita. Bersyukurlah karena dengan kesedihan itu akan ada sebuah pelajaran yang membuatmu dapat satu ilmu, dan menerima semua dg berbesar hati. Bahkan karena rasa bersyukur itulah kita akan semakin dekat dengan Allah

Bersyukurlah karena kita akan semakin menyadari bahwa semua adalah pemberianNya untuk mengingatkan kita sebagai hamba yang berkewajiban utama : beribadah kepadaNya..

Ya Allah jadikan apapun yang Kau berikan kepada kami..adalah sesuatu hal yang akan semakin membuat kami dekat denganMu..

Ya Allah semoga Kau menuntun kami menjalani hari esok ..di tahun 2009 dg hati yang penuh rasa syukur, sabar…sabar dan ikhlas menerima semuanya.

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya ) hal ihwalmu.” (Q.S. Muhammad [47] : 31)

sebuah catatan dari Masjid Raya Pondok Indah, 1 Januari 2009, baru di post sekarang :)