Renungan


Suatu sore sehabis sholat ashar, ngobrol2 dg bu wahyu dan merebahkan badan di masjid..ehm..enaknya meski cuma bentar 5 menit-an
eh ada seorang ibu berjilbab masuk hendak sholat ..beliau menyapa

capek ya mbak..habis kerja..
istirahat dulu mb
memang istirahat di masjid paling enak

.: iya bu,hati tenang

iya mb..di rumah Allah
semua masalah terasa ringan
sambil dzikir mb…
biar hati semakin tenang
karena semua masalah akan ada jalan keluarnya
ada Allah yg Maha Penolong
yg tak kan meninggalkan kita

.: mksh ibu…kata2 sederhana itu mengingatkan kami
menerawang jauh…
ya Allah..jgn pernah tinggalkan kami sendiri..
semoga niat kami di sini
bekerja seharian
untuk ridho dan mencari rahmatMu
jadikan kami orang2 yg bersyukur atas tiap nikmatMU
Engkau tau semua yg ada dlm hatiku, yg bahkan tak kuungkapkan
(Al An’am (6) : 3)

” Dan Dialah Allah (yang disembah),di langit maupun di bumi, Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan dan mengetahui (pula) apa yang kamu kerjakan”

Detak-detak jantung seseorang
tengah berkata kepadanya,
sesungguhnya kehidupan ini
adalah menit dan detik

tak sadar ia terus melangkah
mengejar mimpinya
padahal akhir dari semua mimpinya
hanyalah satu
kembali kepadaNya

gerakkanlah hati dengan langkah kami
untuk memenuhi panggilanMu

 

            Bagaimana kau merasa bangga akan dunia yang sementara

Bagaimanakah bila semua, hilang dan pergi meninggalkan dirimu

Selesai salam diucapkan, seorang pengurus masjid meminta para jamaah untuk bersama-sama melakukan sholat jenazah salah satu saudara muslim di lingkungan kompleks perumahan tersebut. Inna lillaahi wa inna ilaihi rajiuun..

Ya Allah, Engkau telah memanggil nya.., hati kami di sana bergetar hebat. Bahkan tanpa kami sadari air mata kami mengalir, semakin lama semakin tak tertahan.  Meski kami tak mengenal  saudara yang meninggal tersebut, tapi bagaimana mungkin hati keras ini tak tersayat ? Sebeku es mungkin hati kami sebelumnya, tapi saat mendengar berita kematian..bongkahan kesombongan itu retak dan pecah juga…Kami membayangkan jika itu adalah orang tua kami, saudara2 tercinta kami, guru-guru kami atau bahkan saya sendiri…, saat membayangkan kalau kamilah yang akan disholatkan..Ya Rabb, bagaimana jika yang akan disholatkan itulah aku.

masjid

Jika sewaktu-waktu Allah memanggil, apakah yang telah saya siapkan dan perbuat? Belum..belum ada bekal apa-apa. Kami masih sering melalaikan perintahMU, kami orang-orang yang masih terikat pada kepentingan-kepentingan dunia yang semu dan sementara. Bahkan untuk beribadah wajibpun, kami masih menunda-nunda sholat wajib, kami masih sering mengabaikannya dengan alas an masih sibuk dengan pekerjaan. Bagaimana mungkin untuk hal yang wajib saja, kami masih kacau balau?

Lalu bagaimana dengan amalan-amalan kita? Apa peran kita sebagai khalifah di muka bumi ini ? Sudahkah harta dan rizqi yang menjadi hak orang yang membutuhkan sudah kita tunaikan? Sudahkah kita member perhatian pada saudara-saudara kita yang kekurangan? Sudahkah kita mengajak dan menebar kebaikan pada orang-orang di sekliling kita? Sudahkah kita telah menjadi salah satu orang yang berusaha menegakkan Islam? …Telahkah sampai di situ? Atau kami baru sampai di ujung awal, masih sibuk dengan diri kami sendiri..

Bagaimanakah saatnya, waktu terhenti tak kausadari

Masihkah ada jalan bagimu, untuk mengulang ke masa lalu

Para jamaah putra berdiri dan meletakkan jenazah di depan mereka. ..Sebelum dimulai, anggota keluarga yang mewakili keluarga yang meninggal menyampaikan permohonan maaf bila ada kesalahan yang telah dilakukan, juga bila ada hutang yang belum terbayar, maka bisa menghubungi keluarga.

Ya Rabb, Bagaimana jika orang-orang yang pernah tersakiti oleh lisan dan perbuatanku belum memaafkan? Bagaimana jika nanti karena begitu buruknya lisan kami..maka orang2 tak ada yang mau mendoakan kami..astaghfirullah..ampuni kesalahan yg diakibatkan lisan dan perilaku kami, yg kami sengaja atau tidak kami sengaja.

 “Dunia di penuhi dg hiasan, semua dan segala yg ada akan kembali padaNya

Allaahu Akbar, sholat jenazah secara berjamaah dimulai. Luluhkah semua keangkuhan dan kesombongan hati. Takkan ada artinya semua perhiasan dunia. Wajah yang cantik takkan ada artinya. Istri, suami, anak-anak, ayah, ibu, dan saudara-saudara yang kita cintai akan kita tinggalkan. Uang, rumah dan kedudukan kita tak berarti apa-apa, Nothing…nothing…

Maka masih pantaskah kita sekarang mendongakkan kepala kesoombongan itu? Sujudlah..sujudlah, serahkan semua hati dan penghambaan kita padaNya..sang Pemilik hati, jiwa dan raga kita. Yang memiliki diri kita seutuhnya. Yang Memberi anggota tubuh yang lengkap pada kita, fungsi panca indra yang baik. Sehingga kita bisa melihat dan menyaksikan semua bukti kebesaranNya, mendengar dan membaca ayat2Nya, melangkah dan menyusuri bumi ke tempat-tempat yg ingin kita tuju. Yang memberikan kita nikmat Islam, iman dan kesehatan yang melebihi nikmat apapun di dunia. Yang Memiliki segala sifat kebaikan, seluruh kebaikan di atas langit dan bumi dg Asmaul HusnaNya. Yang Memiliki kita dan yang akan Mengambil kita kembali padaNya, kapanpun Allah mengiinginkannya..

Lalu, apakah yang telah kita lakukan dengan hari-hari kita, hingga detik saat kita masih diberi kesempatan menghirup nafas pemberianNya? Hingga detik berlalu, menit  dan jam berganti, hari dan bulan berlalu, tahun berganti..sampai titik usia saat ini? Di titik usia seperempat abad ini, berikanlah kami hati dan jiwa yang bersih untuk bisa lebih baik dari kemarin, berikanlah petunjuk dengan cahaya di hati kami.. Ya Allah, jadikan yang terbaik dari usia kami adalah di akhir usia kami, hari di saat kami menghadap-Mu. Amin

                Bila waktu tlah memanggil, teman sejati hanyalah amal

   Bila waktu tlah terhenti, teman sejati tinggallah sepi….

  (Lyric lagu : Opick – Bila Waktu tlah berakhir) yang penuh makna untuk ku

 

@t the end 2009, February after dhuhur time, Masjid Al Amanah- Sunter

Bajaj yang kami naiki masuk ke sebuah pemukiman yang padat dan maaf terlihat kumuh. Melewati pasar jembatan besi kami berhenti dan kemudian menyusuri gang-gang di pemukiman itu. Daerah Tanah Tinggi, kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, tak jauh dari stasiun atau terminal Senen. Di luar jalan yang dilewati angkot masih terlihat lumayan, tapi begitu kami memasuki gang demi gang, Ya Rabb, ternyata ada daerah seperti ini, padahal kalau tampak luar sepanjang Senen arah Cempaka Putih tak tampak pemandangan seperti itu. Rupanya tersembunyi di baliknya.

kumuh2

Tak ada jarak antara rumah satu dengan lainnya. Rapat dan hanya punya satu tembok antara dua rumah yang berdekatan. Ada yang sudah berdinding tembok yang pudar cat putihnya, ada yang tak bercat, hanya tampak susunan batu bata, ada yang terbuat dari kayu dan triplek. Takkan ada rumah yang memiliki halaman, karena gangnya pun sempit sekali untuk berjalan. Rumah mereka dihiasi juntaian warna-warni baju yang dijemur di depan rumah, berjejer menyambut tamu yang dating ke rumah mereka.

kumuh31

Petak-petak rumah kecil itu, dihuni dengan banyak orang. Mereka rata-rata adalah para pendatang dari luar Jakarta, yang berusaha mengejar mimpinya ke Jakarta. Iming-iming kehidupan yang lebih baik untuk keluarga dan anak-anaknya adalah alas an yang membuat mereka datang ke Jakarta tanpa memiliki modal ketrampilan yang memadai. Istilahnya nekad, demi mencari lembaran uang untuk makan dan sekolah anak-anaknya. Sebagian besar mereka bekerja sebagai penjual makanan, mulai dari warung nasi, berjualan di pasar, stasiun, terminal di kawasan itu dan juga daerah Senen, dengan melihat kawasan Senen cukup strategis untuk berjualan macam-macam makanan dan minuman, baik makanan matang atau sekedar buah dan cemilan ringan.

Bermula dari acara baksos berupa pemeriksaan kesehatan untuk anak-anak balita mereka, di situ terlihat bagaimana kehidupan mereka sehari-hari. Seorang ibu yang mengantar anaknya, bahkan saat diminta menulis nama anak, nama orang tua dan alamat, ia berkata jujur bahwa ia tak bisa membaca dan menulis. Ibu itu masih cukup muda kira-kira 20 tahun ke atas. Ya Rabb, hari gini di Jakarta masih ada yang tidak bisa membaca dan menulis.

“Bersyukurlah dengan apa yg diberikan Allah, nikmat iman dan Islam, nikmat kesehatan, nikmat akal, pikiran dan hati yang bersih. Bersyukurlah dengan karunia rizqi yang halal …Bersyukurlah dengan cara yang paling sederhana, syukur alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas semua rahmatNya

Sejenak dia berharap
           Malam tanpa batas
         

Bunda s’lalu tanamkan
           Jangan pernah menyerah
           Jalani dan panjatkan
           Kelak syukur kau ucapkan pada diri Nya

Bersyukurlah dengan memberikan simpati kita, paling tidak dengan berbagi rizqi kita untuk mereka, kita bisa makan yang ngasih Allah, jadi klo kita bisa bantu yg membutuhkan maka lakukanlah. Satu hal PR besar yang belum bisa kami lakukan adalah : sumbangsih pemikiran kita untuk kehidupan mereka yg lebih baik. Kalau bantuan yg bersifat instan maka dampaknya pendek, tapi andaikan kami bisa memberikan sebuah ide yang berkelanjutan…andai..tapi apa.

Fina pernah bilang : kita sebenarnya bisa lebih dari yg sekarang. Kita hanya stag di sini, do nothing. Kita belum memberikan kontribusi nyata. Percuma kalau cuma sibuk memperbaiki diri sendiri, tapi banyak orang di sekitar kita yang sebenarnya bisa dibantu. Gak usah muluk2, tengoklah tetangga 40 rumah arah dari rumah kita.

Hiks..kenalkah dengan tetangga? berangkat pagi pulang malam..:(.

==========================================

Kumohonkan
Mudahkan hidupnya hiasi dengan belai Mu
Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta
Terangi harinya dengan lembut mentari Mu
Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

(lyric S07 Lihat, dengar dan rasakan)

Sebuah pembicaraan hbs magrib dari masjid BI menuju ke busway yang semoga mengingatkan kami untuk lebih melihat dan membuka mata, jangan hanya mengurusi masalahmu sendiri, itu egois!  Hal yang sulit, tapi tak ada yang tidak mungkin bukan ?…

kumuh

 

“Jangan salah memilih langkah. Wanita tempatnya ya kembali ke rumah”

Kalau ingat perkataan seorang teman yang menyadarkanku di saat lalu, waktu masih semangat2nya mengerjakan tugas akhir. Kalimat singkat yang membuatku berpikir dan merenung, ya sebenarnya hal itu benar. Ujung-ujungnya segala macam tanggung jawab istri dan ibu adalah berawal dari sebuah rumah. Jujur dan dari hati yang paling dalam itu benar banget.

akhwatRealita itu kujadikan acuan suatu hari nanti tanggung jawab itu harus kuingat. Kemanapun pergi dan melangkah. Tapi tak juga harusnya hal itu menyurutkan wanita untuk berkarya, bekerja dan mengabdi untuk keluarga serta masyarakat.

Dari kecil sampai besar, rasanya senang sekali, pagi bangun tidur telah disiapkan sarapan pagi oleh beliau, dan siang saat pulang sekolah, ibu juga sudah pulang dan memasakkan makanan kesukaan kami.

Hal yang tak bisa dilakukan oleh ibu-ibu yang bekerja di kantor seperti di Jakarta. Hmm..berangkat pagi, pulang malam. Ku rasa di kantor sekarang, asal tidak terjebak di project sih bisa pulang cepet, ya setengah lima lah. Tapi kalau sudah di project, hmm sepertinya tinggal mimpi bisa pulang cepat. Dan tentu saja beban serta tanggungjawabnya cukup menguras energi dan pikiran.

Seorang teman, developer di kantor berucap : Mbak..klo aku sih gak mau cari istri yg kerja di IT, hehe..

Karena suami lembur, istri juga lembur. Ntar gimana ?

Berhubung jalan masih di depan sana, belum tahu nantinya seperti apa. Yang ada dalam pemikiran ku dan teman2 cewek lainnya adalah sekarang masih bisa berkarya di sini, tapi kami punya cita-cita masing saat telah berkeluarga dan mempunyai anak2 :)

Tetap bekerja atau menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan. Pilihan yang mana yang akan diambil tentu saja yang membuat tiap orang merasa itu adalah pilihan yang membuat nya mantap dan bahagia menjalani hidupnya. Pilihan yang tak mudah, tapi harus diambil.

Tergantung pasangan hidup masing2 juga. Bisa jadi suami nya mengijinkan dan bisa memahami kesibukan istrinya. Tapi ada juga yang lebih menginginkan istrinya mengurus rumah tangga di rumah. :)

Intinya adalah istri melakukan hal yang membuat suami ridho. Kalau suami ridho, berarti Allah ridho. Sudah itu saja ..itulah tujuan yang selalu dicari-cari seorang istri

Tak kan ada artinya karir, harta, kedudukan dan segala perhiasan indah dunia.

apa yang ku cari dlm keramaian kota

apa yang meresahkan ku dalam gemerlap malam

semua nya ku kembalikan padaMu

hingga akhrnya bermuara ke arah yg Engkau ridhoi

Salah satu yg diimpikan teman2ku ada yang ingin sekolah lagi dan dapat beasiswa hingga bisa jd dosen, ada yang ingin kerja lebih fleksibel misal kerja part time, ada yang pengin usaha sendiri, ada yang ingin pindah kerja PNS de el el. Dan one of my dreams, entah itu kapan adalah bisa mengajar di sebuah sekolah islam. Sayangnya syaratnya masih belum terpenuhi : hafal minimal 1 juz dan bisa bahasa arab hiks hiks. Untuk yang syarat pertama, masih bisa di usahakan, kalau yang kedua masih jauh dari bayangan.

apapun itu tak akan menghentikan wanita untuk berkontribusi dan berkarya, karena ia punya banyak kelebihan yang diberikan oleh Allah. Maka jangan sampai berhenti bermimpi dan bercita-cita ..wujudkanlah..raihlah :)

di tangan Anda lah anak2 dan keluarga dipertaruhkan..smuanya tergantung peran dan bantuan Anda..semangat ya ibu !

Dengan semangat itulah kita punya rencana2 dan mimpi-mimpi masa depan . Ya Rabb berikanlah kami petunjuk ke jalan yg Engkau ridhoi, yang semakin mendekatkan kami padaMu. amin…